METROINFONEWS.COM |Maluku – Gempa bumi terus menerus mengguncang Wilayah Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, sejak 22 Juni 2025, hingga mengakibatkan kerusakan signifikan pada ratusan rumah dan menimbulkan kecemasan di masyarakat.
Terdeteksi, Dua gempa terkuat berkekuatan 4,9 SR terjadi pada 22 Juni dan 4 Juli 2025.
Disisi lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) SBB mencatat kerusakan rumah tersebar di beberapa desa yakni Desa Latu, 233 rumah rusak, 3 KK mengungsi, Desa Hualoy 244 rumah rusak, Desa Tomalehu 17 rumah, Desa Tala 5 rumah, dan Desa Rumahkay 10 rumah.
Sementara itu, Desa Seriholo belum melaporkan kerusakan. Angka ini diperkirakan akan bertambah.
Kepada Media ini Sabtu (5/7/25), Camat Amalatu Rafly Al Ydrus mejelaskan, upaya dan langkah mitigasi dalam waktu dekat akan dilaksanakan pihak terkait.
“Kami terus melakukan kordinasi dengan pihak terkait agar mengambil langkah langkah mitigasi dilakukan sehingga masyarakat tidak berlarut larut merasa cemas. Selain tanggap darurat, upaya mitigasi bencana juga akan dilakukan berupa Sosialisasi dan mitigasi bencana oleh PVMBG direncanakan pada 8 Juli 2025” Ujar Camat
Lebih jauh , dirinya menghimbau agar masyarakat di kecamatan Amalatu yang saat ini mengalami musibah agar tetap selalu waspada.
“Saya harap kita semua tetap waspada dan selalu ikhtiar akan hal hal yang tidak kita inginkan bersama, dan semoga kita dijauhkan dari marabahaya bahaya”. Tukasnya
Sumber lain menjelaskan, sejak gempa pertama, BPBD SBB telah melakukan serangkaian tindakan tanggap darurat yang meliputi, asesmen dan pendataan 23 Juni, pelaporan ke BNPB dan BPBD Provinsi 24 Juni, koordinasi dengan OPD terkait 25 Juni, penyaluran bantuan dan pendataan kerusakan pada 26 Juni, pemantauan dan pendirian tenda pengungsian pada 29 dan 30 Juni, serta koordinasi intensif dengan Tim BNPB pada 30 Juni – 4 Juli.
Tak hanya itu, Bantuan logistik telah diserahkan secara simbolis oleh BNPB kepada Bupati SBB Asri Arman pada 4 Juli, dan pendirian tenda pengungsian tambahan dilakukan pada 5 Juli.
Untuk diketahui, langkah penting lainnya adalah pelatihan mitigasi bencana KATANA (Keluarga Tangguh Bencana) yang telah diberikan kepada tujuh desa di Kecamatan Amalatu pada 10 September 2024 lalu.
Sementara itu, kebutuhan mendesak saat ini adalah terpal dan tenda tambahan. Koordinasi yang baik antara BPBD, BNPB, dan OPD terkait menjadi kunci keberhasilan penanganan bencana ini.
Upaya mitigasi berkelanjutan, termasuk pembangunan infrastruktur tahan gempa, sangat penting untuk mengurangi risiko di masa mendatang.(Ekdar Tella)

