TAKALAR (21/04/2026) – Ribuan hektar tanaman padi di sejumlah desa di Kabupaten Takalar kini berada dalam kondisi kritis akibat kekeringan ekstrem. Para petani menyatakan kekhawatiran mendalam bahwa tanaman mereka akan mati kekeringan (fuso) jika pihak Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang tidak segera mengalirkan air secara maksimal.
Berdasarkan data informasi yang dihimpun, wilayah terdampak meliputi: Desa Lengkese dan Bontomanai: Luas lahan terdampak mencapai kurang lebih 1250 Hektar.
Desa Bontokadatto: 900Ha, Tana-tana, Rajaya, Canrego, dan sekitarnya: Luas lahan terdampak mencapai kurang lebih 1.500 Hektar.
Kendala Teknis Bendungan Pammukkulu
Para petani sebenarnya menaruh harapan besar pada aliran irigasi dari Bendungan Pammukkulu. Namun, hingga saat ini distribusi air belum bisa dilakukan secara optimal.
Menurut keterangan salah satu pengurus pengairan setempat mewakili sejumlah petani yang terdampak, pihaknya telah melakukan koordinasi intensif bahkan melayangkan surat resmi kepada pihak Pompengan terkait krisis air ini. Namun, jawaban yang diterima justru mengecewakan para petani.
“Pihak Pompengan menyatakan air belum bisa dialirkan maksimal karena terkendala kapasitas talang air yang kecil. Talang tersebut tidak mampu menampung debit air sebesar 8 kubik, sementara di BP3 kapasitasnya tidak sampai sekian. Jika dipaksakan, air akan meluap dan memicu banjir di wilayah sekitar talang,” ujar pengurus pengairan tersebut menirukan penjelasan pihak Pompengan.
Desakan Petani
Merespons alasan teknis tersebut, para petani mendesak agar pihak Pompengan tidak sekadar memberikan alasan, melainkan segera melakukan langkah darurat atau solusi teknis cepat.
“Kami butuh air sekarang, bukan kah dana pengerjaan talang tersebut sudah cair di tahu lalu 2025 seharusnya sudah di kerjakan? namun kenapa pihak pompengan tidak mengerjakannya? Jika dalam waktu dekat air tidak sampai ke sawah, seluruh modal dan tenaga kami akan hilang karena padi mati kekeringan,” keluh salah satu petani di lokasi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang belum memberikan pernyataan resmi atau berhasil dikonfirmasi oleh awak media terkait langkah konkret yang akan diambil untuk mengatasi kendala talang air tersebut.
