METROINFONEWS.COM | LANGSA ACEH – Warga Kecamatan Langsa Timur, Kota Langsa kembali dibuat geram setelah hampir dua pekan pascab banjir suplai air bersih dari PDAM Tirta Keumuning tak kunjung normal. Kondisi ini membuat masyarakat semakin tertekan di tengah upaya mereka memulihkan rumah dan lingkungan akibat bencana beberapa waktu lalu.
Sejumlah warga, Jum’at (05/12/2025), mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti mandi, mencuci, dan memasak. Mereka terpaksa membeli air galon berasal dari Lengkong dengan harga tiga kali lipat itupun susah untuk mendapatkan di Langsa Timur. Situasi ini disebut sangat memberatkan karena perekonomian masyarakat juga belum pulih pasca banjir.
Yuli seorang ibu rumah tangga di Gampong Kapa, Langsa Timur, mengatakan bahwa dirinya harus mengeluarkan biaya besar setiap hari untuk membeli air bersih. Ia mengungkapkan hampir dua Minggu pasca banjir, air PDAM tidak mengalir.
Keluhan serupa disampaikan oleh Fahrid, warga lainnya, yang menilai pihak PDAM kurang merespons cepat kondisi darurat pascabencana. Menurutnya, warga tidak mendapat penjelasan pasti kapan air kembali normal, sehingga masyarakat merasa diabaikan.
Masyarakat juga mempertanyakan kesiapan PDAM dalam menghadapi situasi darurat seperti banjir. Mereka menilai perusahaan daerah tersebut seharusnya memiliki rencana kontingensi agar pelayanan air tetap berjalan atau minimal menyediakan suplai alternatif melalui mobil tangki.
Sementara itu, beberapa kepala desa di Langsa Timur mengatakan telah melaporkan masalah ini ke pihak PDAM, namun belum ada perbaikan signifikan. Mereka berharap pemerintah Kota Langsa ikut turun tangan untuk mempercepat penanganan mengingat krisis air bersih merupakan kebutuhan mendesak.
Hingga kini, warga terus menunggu solusi konkret dari PDAM Tirta Keumuning. Sebagian masyarakat bahkan mulai menggalang dukungan untuk membawa kasus ini ke media agar mendapatkan perhatian lebih dari pihak berwenang.
PDAM Tirta Keumuning sebelumnya menyampaikan bahwa kerusakan jaringan akibat banjir menjadi penyebab terganggunya suplai air. Namun, warga menilai informasi tersebut terlalu umum dan tidak memberikan kepastian waktu perbaikan.
Kondisi ini semakin memperparah situasi pascab banjir, di mana warga harus menghadapi tumpukan pekerjaan pembersihan rumah dan lingkungan tanpa dukungan suplai air yang memadai. Banyak warga mengeluh bahwa aktivitas sehari-hari menjadi sangat terhambat.
Warga berharap PDAM dan pemerintah Kota Langsa segera mengambil langkah cepat dan nyata agar suplai air dapat kembali normal. Mereka menegaskan bahwa hak dasar atas air bersih seharusnya menjadi prioritas utama, terutama dalam keadaan darurat pascabencana seperti ini.(DANTON) Kaperwil Aceh
