METROINFONEWS.COM ][ TAKALAR — Kepedulian dan empati terhadap korban kekerasan di lingkungan pendidikan ditunjukkan Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) serta Pemberantasan Perdagangan Orang (PPO) Polda Sulsel.
Direktur Reserse PPA-PPO Polda Sulsel, Kombes Pol Osva, S.I.K., M.Si., bersama jajaran menyempatkan diri menjenguk MSA (15), siswa SMKN 5 Takalar yang menjadi korban dugaan penganiayaan menggunakan senjata tajam.
Kunjungan tersebut berlangsung di Ruang Flamboyan, Kamar 3A, RSUD H. Padjonga Daeng Ngalle Takalar, Rabu (12/8/2026).
Kedatangan Kombes Pol Osva bersama rombongan disambut keluarga korban. Turut hadir Kasat Reskrim Polres Takalar IPTU Hariyanto, KBO Reskrim, Kanit PPA Polres Takalar Ipda Syaiful, serta pihak rumah sakit dan tenaga medis.
Dalam kunjungan tersebut, Kombes Pol Osva menyerahkan sejumlah bantuan kepada keluarga korban. Bantuan berupa sembako, alat tulis untuk mendukung aktivitas belajar, uang tunai, serta mainan.
Keluarga korban menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas perhatian serta kepedulian jajaran Polda Sulsel terhadap kondisi MSA.
“Kami mengucapkan banyak terima kasih atas kepedulian dan empati kepada keluarga kami yang menjadi korban penganiayaan oleh temannya sendiri,” ujar pihak keluarga.
Kombes Pol Osva mengatakan, kunjungan tersebut merupakan bentuk perhatian kepolisian terhadap anak yang menjadi korban tindak pidana, sekaligus memastikan korban mendapatkan perhatian selama menjalani proses pemulihan.
“Memang ada perlindungan terhadap anak terkait kasus pidana terhadap anak. Dalam hal ini, yang kami kunjungi adalah korban dalam kasus tersebut,” kata Osva.
Ia menjelaskan, bantuan yang diberikan diharapkan dapat meringankan beban keluarga sekaligus mendukung kebutuhan korban selama menjalani perawatan dan proses belajar.
“Hari ini kami menyerahkan bantuan berupa sembako dan alat tulis yang mendukung proses belajar mengajar, uang tunai dan mainan,” ujarnya.
Selain memberikan perhatian kepada korban, Osva juga mengimbau para pelajar di Kabupaten Takalar agar membangun pergaulan yang sehat serta menghindari perselisihan dan kekerasan antarsiswa.
Menurutnya, persoalan yang berawal dari perselisihan, perundungan maupun konflik antarpelajar dapat menimbulkan dampak serius dan mengganggu proses pendidikan.
“Kami menyampaikan kepada anak-anak di Kabupaten Takalar supaya bisa bergaul dan bersosialisasi dengan baik sehingga tidak menimbulkan konflik.
Kalau sudah berkonflik, tentu merugikan diri sendiri dan mengganggu proses belajar,” tuturnya.
Ia berharap peristiwa tersebut menjadi pelajaran bagi seluruh pelajar agar setiap persoalan dapat diselesaikan melalui komunikasi dan cara-cara yang baik, tanpa kekerasan.
Kasus Masih Ditangani Polres Takalar.
Sementara itu, kasus dugaan penganiayaan terhadap MSA masih dalam penanganan Polres Takalar. Polisi telah mengamankan barang bukti berupa sebilah parang yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut.
Peristiwa itu terjadi di lingkungan SMKN 5 Takalar pada Selasa (11/8/2026) sekitar pukul 07.15 WITA. MSA, siswa kelas X TSM, diduga mengalami penyerangan oleh teman sekelasnya berinisial RP (15) menggunakan senjata tajam di dalam ruang kelas.
Kepala SMKN 5 Takalar, Syarifuddin, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia mengatakan korban dan terduga pelaku merupakan teman sekelas.
MSA mengalami luka pada tangan kiri setelah diduga berupaya menangkis serangan. Korban kemudian mendapatkan penanganan medis sebelum dirujuk ke RSUD H. Padjonga Daeng Ngalle Takalar.
Menurut Syarifuddin, dugaan penyerangan tersebut diduga berkaitan dengan persoalan yang terjadi sehari sebelumnya. Pada Senin (10/8/2026), RP disebut sempat terlibat dalam insiden pengeroyokan saat perjalanan pulang sekolah.
MSA diduga termasuk siswa yang berada dalam peristiwa tersebut. Perselisihan itu kemudian diduga berlanjut hingga keesokan harinya.
“Korban yang diparangi hari ini merupakan salah satu yang diduga terlibat dalam pengeroyokan terhadap pelaku di luar sekolah. Kemungkinan pelaku merasa sakit hati sehingga terjadi aksi balasan. Sebelumnya juga ada persoalan saling membully di antara mereka,” jelas Syarifuddin.
Pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan dan pendalaman untuk mengetahui secara utuh rangkaian peristiwa serta latar belakang terjadinya dugaan kekerasan tersebut.
Kepolisian mengingatkan seluruh pihak, khususnya pelajar dan lingkungan sekolah, agar mengedepankan komunikasi, pembinaan, serta penyelesaian masalah secara damai sehingga kejadian serupa tidak kembali terjadi.

