Makassar | Bagi Anda yang suka mencium aroma buku atau book-sniffer, datanglah ke perpustakaan ini. Aroma khas buku-buku lawas akan langsung menyambut indera penciuman Anda sejak dari pintu masuk.
Gedung di Jalan Lamaddukelleng Nomor 3 itu berdiri kokoh. Dari luar, bangunan yang didominasi warna hijau dan merah jingga itu tampak lengang. Hanya terlihat satu unit mobil terparkir dan beberapa unit sepeda motor di pekarangan.
Tak banyak orang yang sadar bahwa gedung tersebut adalah perpustakaan. Apalagi, papan besar yang ada di depannya hanya bertuliskan ‘Dinas Perpustakaan’.
Perpustakaan ini terdiri atas tiga lantai. Lantai satu dimanfaatkan sebagai gedung pertemuan, lantai dua untuk perpustakaan dan lantai tiga sebagai tempat penyimpanan buku-buku sejarah Makassar dan koleksi referensi dari negeri kincir angin, Belanda.
Belasan anak tangga menuju lantai dua gedung. Koridornya memberikan kesan sedikit ‘jadul’ namun memberi kesan bersih.
Di ujung koridor terdapat meja yang dimanfaatkan sebagai tempat helm. Di sebelahnya ada satu tempat sampah berwarna hijau yang cukup besar.
Perpustakaan ini sudah berdiri sejak 35 tahun silam, tepatnya pada 1986. Dikelola secara mandiri oleh yayasan dengan nama Perpustakaan Umum Makassar.
Barulah di tahun 2006 saat pencanangan Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM) di era Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirjuddin, pengelolaan perpustakaan ini akhirnya dikerjasamakan dengan Pemerintah Kota Makassar. Namanya pun berubah menjadi Perpustakaan Umum Kota Makassar.
Pintu ruangan perpustakaan berada di sebelah kiri koridor. Saat berdiri depannya, aroma buku lawas langsung menyeruak ke indra penciuman. Wewanginan yang sangat khas, yang menjadi favorit para book-sniffer atau mereka yang suka mencium aroma buku.
Dari pintu ruangan ini langsung dihadapkan dengan jejeran rak buku di sisi kiri dan kanan ruangan. Di tengahnya ada meja panjang dan jejeran kursi yang disiapkan bagi para pengunjung.
Di pojok kiri bagian depan, ada sudut baca yang beralaskan karpet berwarna krem. Satu unit sofa berwarna senada. Di sisinya berdiri rak buku yang didominasi warna biru putih.
Di atas rak buku terdapat papan bertuliskan BI Corner. Tak heran, koleksi di rak tersebut rata-rata berisi buku-buku yang berkaitan dengan ekonomi dan perbankan.
Suasana di dalam ruangan cukup tenang. Hanya terdengar suara desis kipas angin yang terpasang di setiap sisi ruangan bagian atas.
Beberapa orang terlihat sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang membaca buku, membaca koran, ada pula yang berkutat dengan layar laptop di depannya.
Di rak koleksi terlihat berbagai jenis buku, tentang ilmu pengetahuan, keagamaan, novel, hingga majalah yang tersusun rapi.
Sayangnya, beberapa buku tampak lusuh dan berdebu. Lembaran kertasnya mulai menguning, dan sampulnya ada yang koyak ditelan usia.
Sebagian besar buku yang ada merupakan terbitan lama. Majalah terbitan tahun 80-an bahkan masih bisa dibaca di sini.
Samsidar, salah satu pengunjung mengakui sulitnya menemukan buku terbitan teranyar di sini. Menurutnya, pembaruan koleksi buku perlu dilakukan untuk memperbanyak referensi.
Kendati begitu, ia mengaku merasa suasana ruang perpustakaan cukup nyaman, tenang, dan sejuk. Sangat pas bagi dirinya yang butuh konsentrasi dalam menyusun tugas akhir kuliah.
“Suasananya nyaman. Hanya saja memang koleksi bukunya harus diperbanyak, karena saya agak kesulitan menemukan buku-buku terbitan baru,” ujar mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Makassar ini.
Pustakawan Dinas Perpustakaan Kota Makassar, Tulus Wulan Juni mengatakan, sebenarnya tidak ada istilah buku tua di perpustakaan. Setua apapun buku itu, kata dia, akan selalu menjadi buku baru bagi orang yang pertama kali membacanya.
Bahkan, menurut undang-undang, buku yang berusia di atas 50 tahun digolongkan sebagai buku langka yang harus dilestarikan.
“Makanya di perpustakaan tidak ada istilah pemusnahan. Kecuali dimakan rayap atau hama. Semakin tua, semakin lama, maka semakin langka buku itu,” kata Tulus.
Kendati demikian, penambahan buku-buku baru masih tetap dilakuk

