METROINFONEWS.COM | Pangkep – Momen sederhana namun penuh makna itu terabadikan di lini masa Facebook milik mantan Ketua Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Makassar, Erwin Jordan. Dalam tulisannya, ia mengenang perjalanan panjang sahabat-sahabatnya di Kabupaten Pangkep yang ia sebut sebagai “panggilan rindu” para musisi jalanan.
Cerita itu berawal 14 tahun lalu. Di sebuah kota pesisir kecil, sekelompok anak muda memilih gitar dan jimbe sebagai bekal hidup dan bekal mimpi. Setiap hari mereka berkeliling dari warung ke warung, dari alun-alun ke sudut kota, menawarkan suara dan keberanian untuk hidup.
Perlengkapan mereka sederhana. Tapi suara yang keluar bukan suara pasrah. Itu suara muda yang percaya bahwa musik bukan sekadar nada, melainkan cara terhormat untuk bertahan dan membuktikan diri.
Seiring waktu, mereka tidak hanya bernyanyi. Mereka membangun cerita. Mereka membangun keluarga. Dari ruang-ruang kecil di pinggir kota, lahirlah gagasan besar: membentuk komunitas Kelompok Penyanyi Jalanan Pangkep, terinspirasi dari KPJ Jakarta.
Deklarasi dilakukan tidak di gedung megah, tapi di pinggir sungai dekat jembatan kota. Tempat yang mungkin dipandang sebelah mata oleh banyak orang, namun justru di sanalah kesetiaan dan persaudaraan ditempa.

Kini, setelah 14 tahun, KPJ Pangkep masih berdiri tegak. Mereka tidak hanya bernyanyi di jalanan; mereka berkarya di musik, film, dan berbagai kegiatan seni. Komunitas yang dulu dianggap “sekadar pengamen” itu menjelma menjadi ruang kreatif yang konsisten berkarya dan memberi warna bagi daerahnya.
Erwin Jordan menyebut Ketua KPJ Pangkep, Udin Syahruddin, sebagai sosok yang sabar, kreatif, dan rendah hati. “Selama berteman dengan beliau, tak sekalipun kulihat ia marah,” tulisnya disertai tawa ringan.
Ia juga menyoroti kemampuan KPJ Pangkep menjalin hubungan baik dengan pemerintah, sehingga mampu bertahan dan tetap eksis hingga hari ini. “Tidak banyak komunitas bisa bertahan sejauh ini,” puji Erwin.
Di akhir tulisannya, ia mengucapkan selamat ulang tahun ke-14 untuk KPJ Pangkep. “Tetap sehat, sukses, dan berjaya. Rewako.”
Dan benar, ada sesuatu yang tak bisa dibeli dalam perjalanan ini pertemanan yang tidak lapuk, panggung yang tidak selalu glamor, dan suara yang tidak pernah padam meski angin hidup tak selalu tenang.(/*)
