METROINFONEWS.COM |Bulukumba, 1 September 2025 -Jalanan Bulukumba hari ini menjadi saksi dari gelombang besar perlawanan moral yang lahir dari keresahan rakyat. Di bawah terik matahari, suara lantang menggema dari Koalisi 1 September sebuah gerakan lintas organisasi yang mempersatukan mahasiswa, pemuda, aktivis masyarakat sipil, hingga para kurir ojek online yang turut mengisi barisan perjuangan.
Sejak awal, aksi ini ditegaskan sebagai aksi damai. Tidak ada niat menciptakan kerusuhan atau merusak ketertiban. Justru sebaliknya, Koalisi 1 September hadir untuk merawat demokrasi dan memperjuangkan keadilan bagi rakyat kecil.
Dalam orasi pembuka, Renaldi Amir, Ketua Cabang PMII Bulukumba, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Polri dan TNI yang telah mengawal jalannya aksi hingga berlangsung aman dan tertib.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak kepolisian dan TNI yang hari ini bersama-sama menjaga aksi ini agar tetap damai. Kehadiran mereka bukan sebagai lawan, melainkan mitra rakyat dalam mengawal demokrasi. Aksi ini bukanlah panggung permusuhan, melainkan ruang penyampaian aspirasi. Inilah bukti bahwa rakyat bisa bersuara tanpa harus berhadapan keras dengan aparat,” ungkap Renaldi, disambut tepuk tangan meriah massa.
Namun, Renaldi juga mengingatkan bahwa apresiasi ini tidak boleh menghapus luka kolektif yang masih membekas.
“Koalisi 1 September bukan sekadar aksi mahasiswa, melainkan suara bersama dari rakyat yang muak ditindas. Dari pemuda hingga para kurir ojek online, semua hadir menyuarakan hal yang sama: hentikan kekerasan aparat dan batalkan kenaikan tunjangan DPR. Kasus Affan Kurniawan adalah bukti nyata betapa nyawa rakyat diperlakukan murah oleh negara. Reformasi kepolisian adalah harga mati!” serunya, disambut gemuruh yel-yel perlawanan.
Renaldi juga menyinggung krisis legitimasi moral DPR. Kenaikan tunjangan, menurutnya, bukan sekadar persoalan angka, melainkan simbol jauhnya jarak para elite dari denyut kehidupan rakyat kecil.
“Koalisi 1 September lahir dari kemarahan kolektif. Ketika rakyat susah mencari pekerjaan dan harga kebutuhan pokok melambung, DPR justru sibuk mempertebal fasilitas diri. Itu bukan hanya tidak etis, tetapi juga pengkhianatan politik terhadap rakyat. Kami tegaskan: tunjangan bukan hak istimewa, melainkan beban moral yang menuntut kesederhanaan dan tanggung jawab,” tegasnya sambil mengepalkan tangan ke udara.
“Di tengah lautan massa, terlihat semangat solidaritas yang melampaui sekat sosial. Para kurir ojek online dari komunitas Good Kurir hadir bukan hanya sebagai pendukung, melainkan juga saksi sekaligus korban nyata dari praktik represif aparat. Mereka berorasi dengan suara bergetar, menuntut keadilan bagi Affan Kurniawan, rekan mereka yang tewas tragis. Tangisan dan pekikan mereka menjadi pengingat bahwa di balik setiap korban ada keluarga yang kehilangan, ada masa depan yang dirampas, dan ada luka yang terus membekas.
Koalisi 1 September kemudian merumuskan Lima Tuntutan Besar yang mereka suarakan di sepanjang jalanan Bulukumba:
1. Mengesahkan UU Perampasan Aset – sebagai upaya serius memberantas korupsi.
2. Menolak Kenaikan Pajak di Daerah – yang hanya menambah beban rakyat kecil.
3. Menolak Kenaikan Tunjangan DPR – simbol penolakan terhadap politik elitis yang rakus.
4. Mengadili Pelaku Penabrakan Affan Kurniawan – demi tegaknya keadilan.
5. Membebaskan Seluruh Aktivis yang Ditahan – sebab perlawanan adalah hak demokratis warga negara, bukan kejahatan.
Aksi yang diikuti ratusan massa ini berlangsung penuh semangat namun tetap tertib. Poster, spanduk, hingga mural spontan menghiasi jalanan dengan kalimat-kalimat perlawanan: “Hidup Rakyat, Lawan Represi!”, “Nyawa Rakyat Tidak Murah!”, dan “Batalkan Tunjangan DPR!”. Suara orasi berpadu dengan teriakan yel-yel, menciptakan harmoni perlawanan yang mengguncang kota Bulukumba.
Lebih dari sekadar demonstrasi, Koalisi 1 September adalah pernyataan politik rakyat. Ia menjadi tandingan atas narasi kekuasaan yang kerap menutup mata dari penderitaan. Kehadirannya menegaskan bahwa negara ini tidak bisa terus dijalankan dengan meminggirkan suara rakyat, sebab rakyatlah pemilik sah kedaulatan.
Di akhir aksi, Renaldi kembali menekankan pesan damai, menutup dengan kalimat yang menggugah hati:
“Kami, Koalisi 1 September, tidak akan berhenti sampai keadilan ditegakkan. Terima kasih kepada Polri dan TNI yang mengawal jalannya aksi ini dengan damai. Kami percaya, jika aparat bersama rakyat, maka demokrasi akan selalu hidup. Setiap luka rakyat adalah luka bangsa, dan kami akan terus menjaga agar suara itu tidak padam. Ingatlah, negara ini milik rakyat, bukan segelintir elite yang memperdagangkan kekuasaan di atas penderitaan mereka.”
Dengan demikian, Koalisi 1 September menjadi penanda bahwa gelombang perlawanan rakyat tidak pernah benar-benar padam. Ia hanya menunggu momentum untuk kembali meletup membawa pesan sederhana namun mendalam: keadilan bukan pemberian, melainkan hak yang harus diperjuangkan bersama, secara damai, bersatu, dan penuh keberanian(/*)

