METRPINFONEWD.COM ][ TAKALAR — Pengadaan dan pembayaran sejumlah perlengkapan siswa di SMA Negeri 1 Takalar mendapat sorotan dari orang tua siswa. Pihak sekolah diminta transparan menjelaskan dasar pengadaan dan rincian pembayaran baju olahraga, baju batik, serta perlengkapan berupa topi, dasi dan lambang lokasi sekolah.
Sorotan tersebut disampaikan salah seorang orang tua siswa yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan. Kepada awak media, ia mengaku telah membayar baju kaos olahraga sebesar Rp180 ribu sejak beberapa bulan lalu.
Menurut keterangannya, pembayaran baju olahraga tersebut dilakukan oleh ratusan siswa. Informasi yang diterimanya menyebutkan jumlah siswa yang telah melakukan pembayaran mencapai lebih dari 400 orang.
Selain baju olahraga, orang tua siswa juga mempertanyakan harga baju batik yang disebut sebesar Rp150 ribu per lembar. Sementara perlengkapan berupa topi, dasi dan lambang lokasi sekolah disebut dikenakan biaya Rp70 ribu per orang.
Orang tua siswa menilai besaran pembayaran tersebut perlu dijelaskan secara terbuka, termasuk dasar penetapan harga, harga pengadaan, kualitas barang dan mekanisme pengadaannya.
“Yang kami harapkan adalah keterbukaan. Kalau memang ada pengadaan baju dan perlengkapan siswa, sebaiknya dijelaskan berapa harga pembelian, biaya produksi dan bagaimana harga tersebut ditetapkan,” ujar orang tua siswa tersebut.
Ia juga mempertanyakan dugaan adanya selisih sekitar Rp72 ribu per siswa pada pembayaran baju olahraga. Namun, angka tersebut masih perlu diverifikasi melalui dokumen pengadaan dan penjelasan resmi pihak sekolah maupun penyedia barang.
Jika benar lebih dari 400 siswa telah membayar dan terdapat selisih Rp72 ribu per siswa, maka secara hitungan sederhana nilainya mencapai sekitar Rp28,8 juta. Angka tersebut dapat lebih besar apabila jumlah siswa yang telah membayar melebihi 400 orang.
Orang tua siswa menegaskan bahwa persoalan yang dipertanyakan bukan semata-mata mengenai besaran harga, melainkan juga dasar dan mekanisme penetapan pembayaran tersebut.
Menurut keterangannya, pembayaran perlengkapan tersebut disebut tidak pernah dibahas melalui rapat bersama orang tua siswa. Ia menyebut bahwa dalam pertemuan sebelumnya, pembahasan yang disampaikan kepada orang tua lebih berkaitan dengan tata tertib sekolah, bukan pembahasan mengenai pengadaan dan pembayaran perlengkapan siswa.
Karena itu, orang tua siswa meminta pihak sekolah menjelaskan apakah pembayaran tersebut telah melalui mekanisme yang sesuai, termasuk dasar keputusan, persetujuan yang diperlukan, serta rincian pengadaan barang.
“Kami juga meminta Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan turun tangan untuk mengklarifikasi persoalan ini. Kalau memang ada dasar dan mekanismenya, silakan dijelaskan secara terbuka kepada orang tua siswa,” ujarnya.
Ia berharap Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan dapat melakukan klarifikasi dengan meminta keterangan dari pihak sekolah, termasuk dokumen yang berkaitan dengan pengadaan, jumlah siswa yang membayar, harga dari penyedia, serta dasar penetapan nominal pembayaran.
Transparansi dinilai penting agar tidak muncul dugaan maupun persepsi yang merugikan pihak sekolah ataupun orang tua siswa. Setiap pembayaran yang dibebankan kepada peserta didik diharapkan memiliki dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan sesuai ketentuan yang berlaku.
Orang tua siswa juga meminta Kepala SMA Negeri 1 Takalar, Abd. Azis Basir, S.Pd., memberikan penjelasan mengenai pengadaan baju olahraga, baju batik, serta paket topi, dasi dan lambang lokasi sekolah.
Hingga berita ini disusun, pihak SMA Negeri 1 Takalar belum memberikan keterangan resmi mengenai dasar pembayaran, rincian harga pengadaan, jumlah siswa yang telah membayar maupun dugaan selisih harga yang dipersoalkan orang tua siswa.
Klarifikasi dari pihak sekolah dan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan diperlukan untuk memastikan duduk persoalan secara utuh serta memberikan kepastian kepada para orang tua siswa.

