METROINFONEWS.COM ][ Takalar – Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Eko Nugroho, mengumpulkan para penyuluh pertanian dari Kabupaten Takalar dan Kabupaten Jeneponto dalam rangka konsolidasi dan penguatan peran penyuluh untuk mendukung program swasembada pangan nasional. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Dinas Pertanian Kabupaten Takalar, Senin (6/7/2026).
Pertemuan ini menjadi momentum penting setelah para penyuluh pertanian resmi beralih status menjadi pegawai pemerintah pusat sejak Januari 2026. Selama enam bulan terakhir, mereka menjalankan tugas di bawah pembinaan langsung Kementerian Pertanian, namun tetap berkoordinasi erat dengan pemerintah daerah.
PLT Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian Kementerian Pertanian, Eko Nugroho, menjelaskan bahwa kunjungannya ke Takalar bertujuan untuk mempererat silaturahmi sekaligus memberikan motivasi kepada seluruh penyuluh agar terus menjadi garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan swasembada pangan.
“Hari ini kami hadir di Takalar bersama penyuluh dari Takalar dan Jeneponto untuk konsolidasi dan silaturahmi.
Mereka sudah enam bulan menjadi pegawai pusat, sehingga perlu kami berikan semangat agar terus menjaga swasembada pangan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Eko, meskipun status kepegawaian telah berubah, tugas para penyuluh di lapangan tetap sama, yakni mendampingi petani serta berkolaborasi dengan dinas pertanian dalam mencapai target produksi pangan.
Ia menjelaskan bahwa setiap bulan seluruh daerah memiliki target Luas Tambah Tanam (LTT).
Untuk Provinsi Sulawesi Selatan pada bulan Juli 2026 ditargetkan mencapai sekitar 128 ribu hektare, yang kemudian dibagi kepada seluruh kabupaten sesuai luas baku sawah dan kondisi pertanaman masing-masing.
“Kami ingin penyuluh terus mendorong petani agar tetap menanam meskipun curah hujan berkurang, dengan memanfaatkan sumber air yang tersedia sehingga target produksi tetap tercapai,” jelasnya.
Eko menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia menghentikan impor beras harus dipertahankan dalam jangka panjang.
“Swasembada pangan tidak cukup hanya satu atau dua tahun. Ini harus dijaga terus hingga 10 sampai 20 tahun ke depan bahkan seterusnya,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Eko juga menyampaikan adanya perubahan kewenangan bagi penyuluh pertanian.
Kini penyuluh memiliki hak untuk mengusulkan Calon Penerima Calon Lokasi (CPCL) berbagai bantuan pemerintah, seperti pompa air, traktor maupun combine harvester sesuai kebutuhan petani di wilayah binaannya.
“Kalau dulu usulan berasal dari dinas, sekarang penyuluh sudah dapat mengusulkan langsung kebutuhan petani melalui ketua tim kerja penyuluh di kabupaten untuk diproses hingga ke pusat,” katanya.
Terkait pemanfaatan BBM subsidi untuk operasional alat dan mesin pertanian, Eko menjelaskan bahwa pemerintah telah menyediakan kuota solar bersubsidi yang cukup besar melalui BPH Migas. Namun penyerapannya masih rendah.
Meski demikian, penyuluh belum memiliki kewenangan memberikan rekomendasi resmi penggunaan BBM subsidi karena pengesahan administrasi masih menjadi kewenangan pemerintah daerah melalui dinas, camat maupun pemerintah desa.
“Penyuluh tetap berperan melakukan pendampingan, sosialisasi, validasi dan verifikasi data petani. Ke depan mekanismenya akan terus disempurnakan,” jelasnya.
Secara nasional, pemerintah menargetkan cadangan beras di Bulog mencapai 4 juta ton pada tahun 2026, sementara cadangan jagung ditargetkan 1 juta ton.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Penyuluh Kabupaten Jeneponto, Rafiuddin, mengungkapkan bahwa Kabupaten Jeneponto memperoleh target Luas Tambah Tanam pada Juli 2026 sebesar 4.412 hektare.
Untuk target tahunan, Jeneponto menargetkan luas tanam minimal setara tahun sebelumnya, yakni sekitar 36 ribu hektare. Dengan indeks pertanaman (IP) yang telah mencapai 2,6, rata-rata lahan pertanian di Jeneponto kini telah ditanami hampir tiga kali dalam setahun.
“Kalau rata-rata produktivitas mencapai lima ton per hektare, tentu produksi beras yang dihasilkan akan semakin meningkat,” ujar Rafiuddin.
Eko Nugroho juga menyampaikan bahwa dirinya saat ini bertanggung jawab membina sekitar 38 ribu penyuluh pertanian di seluruh Indonesia.
Dalam kegiatan tersebut terungkap bahwa jumlah penyuluh pertanian di Kabupaten Jeneponto mencapai 108 orang, sedangkan Kabupaten Takalar saat ini memiliki 17 penyuluh pertanian yang menjadi ujung tombak pendampingan petani dalam mendukung target swasembada pangan nasional.

