GARDATIMURNEWS COM ][ TAKALAR —metro info Pelayanan kesehatan di UPTj Puskesmas Mappakasunggu, Kelurahan Takalar, Kecamatan Mappakasunggu, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, terpantau berjalan kondusif pada Jumat (8/5/2026).
Pantauan di lokasi sekitar pukul 10.30 WITA menunjukkan aktivitas pelayanan pasien berlangsung tertib dan lancar. Antrean di sejumlah poliklinik tampak lebih renggang dibanding hari-hari sebelumnya, sementara petugas kesehatan tetap sigap melayani masyarakat yang datang berobat.
Belasan pasien dari berbagai kalangan usia, mulai remaja hingga lanjut usia, terlihat menunggu giliran pemeriksaan di ruang pelayanan. Suasana di dalam puskesmas pun tampak tenang meski aktivitas pelayanan medis berjalan normal.
Kepala UPT Puskesmas Mappakasunggu, Rabiah S.Km, ditemui usai memantau pelayanan pasien di ruang kerjanya yang berada bersebelahan dengan area poliklinik.
Dalam keterangannya, Rabiah menegaskan bahwa keselamatan dan penanganan pasien menjadi prioritas utama dibanding persoalan administrasi pelayanan kesehatan.
Ia mengaku telah menginstruksikan seluruh tenaga kesehatan agar tidak memperlambat proses penanganan maupun rujukan pasien hanya karena menunggu kelengkapan administrasi, termasuk persoalan BPJS atau surat rujukan.
Kalau pasien dalam kondisi darurat, yang utama adalah penyelamatan nyawa. Administrasi bisa diselesaikan kemudian, jangan sampai pasien terlambat ditangani hanya karena prosedur,” ujarnya.
Menurut Rabiah, sistem administrasi dan aturan pelayanan tetap penting dijalankan, namun tidak boleh menjadi penghambat ketika pasien membutuhkan tindakan cepat dan darurat.
Ia menekankan kepada seluruh petugas agar mengedepankan sisi kemanusiaan dan tanggung jawab pelayanan publik, khususnya bagi warga yang datang dalam kondisi kritis.
Selain fokus pada pelayanan medis, pihak Puskesmas Mappakasunggu juga memberi perhatian khusus kepada warga kurang mampu yang membutuhkan ambulans rujukan menuju rumah sakit.
Rabiah menjelaskan bahwa secara umum pasien non-BPJS atau pasien umum memang dikenakan biaya ambulans sesuai ketentuan. Namun pihak puskesmas tetap melihat kondisi ekonomi keluarga pasien sebelum melakukan penagihan biaya.
“Kami tidak ingin masyarakat terbebani biaya besar saat sedang menghadapi kondisi darurat kesehatan. Kalau memang tidak mampu, kami prioritaskan keselamatan pasien terlebih dahulu,” katanya.
Ia mencontohkan kasus seorang pasien luka bakar bernama Daeng Lobo, warga Bontomanai, Desa Patani, Kecamatan Mappakasunggu, yang sebelumnya mendapat bantuan pembebasan biaya pelayanan
Kesehatan dan Ambulance.
Biaya penanganan medis serta ambulans yang diperkirakan mencapai sekitar Rp1,5 juta akhirnya digratiskan setelah pihak puskesmas mempertimbangkan kondisi ekonomi keluarga pasien yang tergolong kurang mampu.
Menurut Rabiah, keputusan tersebut diambil atas dasar kemanusiaan agar masyarakat tetap memperoleh akses layanan kesehatan tanpa tekanan biaya.
Langkah tersebut mendapat apresiasi dari sejumlah keluarga pasien yang menilai pelayanan di Puskesmas Mappakasunggu kini lebih cepat, humanis, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Rabiah berharap pelayanan kesehatan di wilayah pesisir Kecamatan Mappakasunggu terus meningkat, baik dari sisi fasilitas, kedisiplinan petugas, maupun kecepatan penanganan pasien.
Ia juga meminta seluruh tenaga kesehatan tetap menjaga komitmen pelayanan prima dengan mengedepankan empati, profesionalisme, dan kepentingan masyarakat.
“Puskesmas adalah tempat pelayanan dasar masyarakat. Jadi kami ingin seluruh pasien merasa dilayani dengan baik tanpa membedakan status ekonomi maupun administrasinya,” tutupnya.( Darwis Tompo )

