METROINFONEWS.COM | GOWA – Saat ini di beberapa wilayah di Indonesia telah tengah memasuki awal musim penghujan akan datang . Menurut perkiraan (BMKG) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, di perkirakan hampir secara menyeluruh menunjukkan bahwa musim penghujan akan mulai bulan November 2023, sekalipun itu tidak merata secara bersamaan di seluruh daerah di Indonesia .(Kamis 16/11/2024)
Oleh karena itu, di perkirakan puncak musim hujan akan turun di bulan awal januari dan februari 2024.
Di ingatkan kepada seluruh masyarakat wajib untuk berhati-hati dan selalu mewaspadai akan adanya berbagai penyakit yang sering muncul disaat musim penghujan datang .
Salah satu virus penyakit tersebut adalah penyakit demam berdarah dengue (DBD). Sekalipun itu hanya demam dengue yang sering terjadi di musim kemarau, namun patut kita waspadai penyakit tersebut dapat berpotensi lebih besar terjadi ketika musim penghujan datang.
Pergantian musim sering memang kita alami dan dapat menjadi situasi yang sangat rawan pada peningkatan kasus DBD sebab musim penghujan berpotensi menciptakan lingkungan yang lebih ideal bagi nyamuk aedes aegypti, yang dimana kita ketahui bersama merupakan vektor penyakit DBD, serta dapat berkembang biak. Penyebabnya adalah dengan banyaknya Air hujan yang menumpuk di genangan,pada wadah kaleng potongan-potongan plastik, serta wadah lain yang dapat menampung air menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk tersebut.
Oleh karena itu , musim penghujan dapat pula membuat masyarakat cenderung lebih sering berada di dalam rumah, dan itu sangat dapat meningkatkan risiko gigitan nyamuk di dalam ruangan. Oleh karena itu untuk dapat menekan peningkatan kasus DBD selama masa peralihan musim, ada beberapa tips dan langkah- langkah pencegahan penting yang dapat dilakukan diantaranya ialah:
1 . Kita wajib untuk mencegah sebaik mungkin pengendalian pencegahan populasi nyamuk: dengan banyak banyak Melakukan kontrol terhadap populasi nyamuk Aedes aegypti yang merupakan vektor virus DBD. Dan itu dapat dilakukan melalui penggunaan insektisida, pemasangan jaring nyamuk, pengelolaan air, atau pendekatan inovatif seperti penggunaan metoda Wolbachia,yang biasa di lakukan untuk tahap pencegahan .
Dalam perencanaan sistem atau Metoda Wolbachia itu merupakan metode biologis yang dilakukan dengan menanamkan bakteri Wolbachia pada populasi nyamuk sehingga dapat mengurangi atau menelan populasi kemampuan nyamuk untuk mentransmisikan virus penyakit kepada kita semua.
Untuk itu Program pengendalian DBD dengan metode nyamuk Wolbachia sudah menunjukkan efektivitas yang dapat menjanjikan terkait dalam hal beberapa penelitian dan proyek di lapangan.
Menurutnya , nyamuk yang diinfeksi dengan bakteri Wolbachia ini dapat membantu menghambat atau mencegah perkembangbiakan virus dengue pada tubuh nyamuk, sehingga dapat mengurangi kemampuan nyamuk itu sendiri agar dapat berpotensi menyebarkan virus tersebut kepada manusia.
Untuk beberapa proyek di lapangan sudah dilakukan di berbagai negara, alhasil dapat menunjukkan atau pencegahan serta penurunan yang signifikan pada kasus DBD di wilayah daerah yang diintervensi dengan nyamuk Wolbachia.
Akan tetapi , efektivitasnya bisa mempengaruhi dari berbagai faktor, salah satu program keberlanjutan, partisipasi masyarakat, lingkungan, serta mengontrol secara rutin kondisi wilayah daerah lokal dan yang lainnya.
Walaupun kita masih perlu penelitian lebih lanjut agar dapat memahami seluruh dampak dan potensi efektivitasnya dalam jangka panjang, metode nyamuk Wolbachia sudah menunjukkan harapan untuk sebuah alat yang dapat di gunakan dalam upaya pengendalian DBD.
2.Terus memberikan edukasi dan kesadaran kepada Untuk terus berupaya memberikan semangat kepada masyarakat tentang pencegahan DBD melalui gerakan atau kegiatan kampanye penyuluhan, segala informasi terkait tentang tanda dan gejala DBD, juga dapat promosi praktik dalam pencegahan seperti menggunakan kelambu, menggunakan obat anti-nyamuk serta pembersihan secara rutin pada tempat-tempat berkembang biaknya nyamuk.(Irham.T)

